• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rekomendasi Tempat Belanja di Jeddah

Jeddah merupakan salah satu kota perbelanjaan terpopuler di Arab Saudi. Pusat perbelanjaan ternama di sana, di antaranya yang paling terkenal adalah Kawasan Balad dan Corniche.

Kawasan ini berlokasi di dekat pantai Laut Merah. Kawasan Balad dan Corniche adalah pusat perbelanjaan barang-barang elektronik merek terkenal. Pusat perbelanjaan di kawasan ini setiap hari ramai dikunjungi pembeli. Puncak keramaian biasanya terjadi pada malam hari. Namun demikian, baik penjual maupun pembeli yang berada di tempat tersebut menghentikan kegiatannya tatkala adzan berkumandang.

Selain itu, jamaah haji dan umrah yang sempat mampir ke Kota Jeddah, alangkah baiknya mampir di Toko Ali Murah. Jamaah haji asal Indonesia biasanya paling suka berbelanja di Toko Ali Murah. Untuk melayani para pembeli, para petugas toko ini menggunakan Bahasa Indonesia. Beragam kebutuhan dijual di Toko Ali Murah, mulai dari perhiasan, karpet, sajadah, hingga barang-barang elektronik.

Selanjutnya, Haraj As-Sawarikh juga layak jadi perhatian untuk membeli barang-barang murah dengan harga grosiran. Haraj as-Sawarikh sendiri adalah pusat belanja glosir. Lokasinya tidak jauh dari Balad. Pusat perbelanjaan ini menawarkan berbagai macam produk souvenir dan fashion, termasuk souvenir dan fashion bekas seperti karpet dan arloji bekas.

Tahlia Street yang letaknya tepat di jantung kota Jeddah juga layak jadi perhatian bagi yang ingin berbelanja di Jeddah. Di kawasan tersebut dijual produk-produk fesyen ternama seperti Gucci, Prada, dan Giorgio.

Kemudian Pertokoan di Jalan Palestina atau yang lebih dikenal dengan Syari’ Falestin. Pertokoan di kawasan ini dikenal dengan Suq Khudor atau pasar sayur-mayur. Jahe, lengkuas, dan sayur-sayuran mudah didapatkan di kawasan ini. Di lokasi yang sama, banyak juga toko yang menjual barang-barang elektronik seperti kamera dan alat-alat musik.(jurnalhaji.com)
Share:

Haji Hanya Wajib Satu Kali?

Setiap orang Islam laki-laki dan perempuan yang telah memenuhi persyaratan wajib mengerjakan ibadah haji satu kali seumur hidup. Jika seseorang mampu baik secara fisik maupun finansial mengerjakan ibadah haji untuk kesekian kalinya maka ibadah hajinya dinilai sunnah.

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh salah seorang sahabat tentang perlu tidaknya ibadah haji dikerjakan setiap tahun, beliau terdiam dan tidak menjawab. Baru setelah sahabat tersebut bertanya untuk ketiga kali Rasulullah menjawab, “Andai aku jawab ya, maka haji menjadi wajib, sementara kalian tentu tidak akan mampu melakukannya.”(jurnalhaji.com)
Share:

Inilah Lima Hikmah Diwajibkannya Haji

Setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT mengandung hikmah tersendiri. Allah tidak pernah sekalipun memerintahkan manusia melakukan suatu perbuatan yang tak bermakna atau tidak mengandung hikmah. Hikmah yang bisa kita petik dari pelaksanaan ibadah haji antara lain:

1. Menyaksikan secara langsung Masjidil Haram, Ka’bah, tempat turunnya Alquran, serta tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan Rasulullah SAW dan penyebaran Islam. Umat Islam yang mengunjungi tempat-tempat tersebut diharapkan dapat menghayati nilai-nilai keimanan, ketakwaan, keikhlasan, kepahlawanan, dan pengorbanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menyebarkan agama Islam.

2. Ketika memasuki Makkah dan melihat Ka’bah umat Islam diajak untuk mengingat nilai-nilai ketakwaan Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya. Seberat apa pun perintah Allah SWT, bahkan meninggalkan istri di padang tandus dan menyembelih seorang anak sekalipun, tetap dilaksanakan dengan baik oleh Ibrahim.

3. Ketika memakai pakaian ihram yang berwarna putih polos tanpa jahitan dan pernak-pernik umat manusia dari segala penjuru seakan-akan diingatkan bahwa mereka adalah umat yang satu. Mereka tidak dibedakan berdasarkan kelas sosial, ras, etnis, bahasa, atau kebudayaan.

Mereka semua sama di mata Allah SWT. Satu-satunya yang membedakan hanyalah ketakwaan masing-masing. Dalam ibadah haji, terpapar persamaan atas nama agama, yaitu Islam (al-musawah al-lslamiyah).

Mereka berkumpul di tempat yang sama dan dengan penampilan yang sama. Semuanya tunduk, merendah dan takut kepada Allah.

4. Haji adalah ibadah yang menyempurnakan kehidupan spiritual umat Islam. Setelah shalat, puasa, dan zakat ditunaikan maka ibadah haji adalah penyempurnanya. Umat Islam dari penjuru dunia berkumpul ditempatyang sama dan pada waktu yang sama.

Mereka membawa rasa cinta yang sama, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Sekalipun aliran teologi dan madzhab fikih mereka berbeda, namun masing-masing digerakkan oleh satu alasan yang sama, yaitu kepatuhan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

5. Haji adalah pertemuan akbar yang dihadiri oleh umat Islam dari segala penjuru dunia. Dengan demikian, haji memberikan kesempatan yang sangat besar bagi umat Islam untuk menggalang persatuan di antara sesamanya, menyatukan tekad dan semangat, dan bersama-sama memikirkan persoalan yang mendera umat Islam.

Pada musim haji, setiap orang bahkan dapat membangun komunikasi atau relasi dengan orang lain baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Hal ini tidak lain merupakan realisasi doa Nabi Ibrahim AS, “Wahai Tuhan kami,sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Wahai Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”(QS. Ibrahim ayat 37).

Massa yang begitu besar itu bergerak dan berputar mengelilingi Ka’bah. Mereka adalah orang-orang yang terpanggil untuk berkunjung dan bertamu ke rumah Allah (Baitullah) itu. Karena mereka adalah tamu Allah, maka Allah akan menyuguhkan ‘jamuan’ yang tak terbilang nikmatnya bagi mereka. ‘Jamuan’ itu adalah kasih sayang dan ampunan Allah yang tak terbatas.(jurnalhaji.com)
Share:

Beginilah Nabi Muhammad SAW Melaksanakan Manasik Hajinya

Haji adalah ibadah wajib bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya, baik mampu secara fisik,mental, maupun finansial.

Menurut para ulama, kewajiban menunaikan ibadah haji dan umrah diterima oleh Rasulullah SAW pada tahun 6 Hijriah/628 Masehi. Untuk menjalankan perintah Allah SWT tersebut, pada tanggai 6 Dzulqa’dah tahun 6 Hijriah, Rasulullah SAW bersama 1.500 pengikutnya bertolak menuju Makkah untuk melaksanakan umrah.

Namun, di tengah perjalanan tepatnya di daerah Hudaibiyah yang berjarak sekitar sembilan mil dari Makkah, mereka dicegat oleh orang- orang kafir. Menghindari pertumpahan darah, kaum muslimin bersedia melakukan perundingan dengan orang-orang kafir.

Dalam perundingan itu, sebuah kesepakatan yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah diteken oleh kedua belah pihak. Salah satu butir dalam isi perjanjian tersebut adalah bahwa kaum muslim tidak diperkenankan melaksanakan ibadah haji tahun itu. Mereka baru diizinkan pada tahun berikutnya, itu pun hanya dalam waktu tiga hari.

Sebelum Rasulullah SAW melakukan ibadah haji, konon beliau sudah pernah melakukan umrah sebanyak empat kali. Demikian diriwayatkan dari Aisyah, Ibnu Umar, dan Anas bin Malik. Umrah pertama dilakukan pada tahun 6 Hijriah/628 Masehi atau dikenal dengan umrah Hudaibiyah.

Umrah kedua dilakukan pada tahun berikutnya, umrah ketiga pada bulan Dzulqa’dah tahun yang sama, dan umrah keempat ketika beliau mengerjakan ibadah haji.

Selain riwayat dari tiga tokoh di atas, ada banyak informasi lain tentang berapa kali Rasulullah SAW menunaikan ibadah. Namun dari berbagai informasi tersebut, pendapat paling sahih menyatakan bahwa Nabi hanya melakukan umrah sebanyak tiga kali.

Umrah pertama dilaksanakan pada tahun 7 Hijriah/629 Masehi, umrah kedua dilakukan pada tahun 8 Hijriah/630 Masehi dan dikenal dengan umrah Dzulqa’dah atau umrah Ji’ranah, dan umrah ketiga terjadi pada tahun 10 Hijriah/632 Masehi, yaitu ketika Nabi mengerjakan Haji Wada’.

Manasik haji yang dikenalkan oleh Rasulullah SAW adalah penyempurna dari manasik haji para nabi sebelumnya, termasuk manasik haji Nabi Ibrahim AS.

Manasik haji yang dikenalkan oleh Rasulullah SAW dapat diuraikan dalam urutan, yaitu: ihram; thawaf; shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim; sa’i (berlari-lari kecil) antara bukit Shafa dan Marwah; wukuf di Padang Arafah; bermalam di Muzdalifah; melempar Jumrah Aqabah; menyembelih binatang kurban; melaksanakan thawaf ifadhah; tahallul atau bercukur; mabit atau menginap di Mina; melempar tiga jumrah pada Hari Tasyriq (tanggai 11, 12, dan 13 Dzulhijjah); dan melakukan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan.

Sewaktu mengerjakan Haji Wada’ atau haji terakhir, Rasulullah SAW berpesan agar umat Islam mengikuti manasik atau tata cara haji yang beliau contohkan. Manasik haji tidak boleh dimodifikasi sebab ditetapkan secara langsung melalui wahyu Allah SWT.

Demikianlah ritual haji yang disyariatkan kepada Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, hingga Nabi Muhammad SAW. Setiap ritual haji yang diturunkan kepada nabi-nabi tersebut mengalami penyempurnaan dan pembersihan dari segala macam pencemaran.(jurnalhaji.com)
Share:

Masyarakat Jahiliyah Pra-Islam Berhaji? Inilah Cara Mereka

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab pra-lslam atau lebih dikenal dengan Arab Jahiliyah melakukan banyak penyelewengan terhadap ajaran-ajaran Nabi Ibrahim AS Dengan maksud menghindari bulan Muharram. Di bulan itu, mereka dilarang berperang.

Masyarakat Arab Jahiliyah melakukan modifikasi terhadap sistem penanggalan mereka. Mereka menggunakan penghitungan bulan dengan sistem penggeseran, sehingga bulan Dzulhijjah bergeser ke bulan Muharram, Muharram bergeser ke Safar, dan seterusnya. Dengan begitu, pelaksanaan ibadah haji berubah-ubah setiap tahun. Jika tahun ini haji dilaksanakan pada bulan Muharram atau mereka menyebutnya Safar Awal, misalnya, maka tahun berikutnya haji dilakukan pada bulan Safar atau mereka sebut Safar Tsani, demikian seterusnya.

Pada zaman Jahiliyah, jamaah haji terbagi menjadi dua kelas sosial, yaitu masyarakat non-pedagang dan masyarakat pedagang. Jamaah haji dari kalangan pedagang harus pergi meninggalkan kampung halaman mereka satu bulan atau lebih sebelum musim haji dimulai.

Hal itu ditujukan agar mereka dapat berdagang di Pasar Ukaz selama dua puluh hari. Dari sana, mereka pindah ke Pasar Majnah dan berjualan selama sepuluh hari. Setelah tampak hilal (bulan yang muncul pada setiap tanggai satu) bulan Dzulhijjah, Pasar Majnah ditutup dan mereka bergerak ke kawasan Dzul Majaz untuk berniaga. Di tempat tersebut mereka menetap selama 8 hari. Baru pada Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) mereka pergi ke Arafah untuk melakukan wukuf.

Lain halnya dengan jamaah haji pedagang, mereka bertolak dari tempat tinggal mereka pada Hari Tarwiyah dan langsung melaksanakan wukuf. Sebagian dari mereka mengerjakan wukuf di Padang Arafah dan sebagian yang lain melakukannya di Namirah, yaitu sebuah daerah yang terletak di tapal batas Tanah Haram.

Sebelum malam, mereka beranjak menuju Muzdalifah. Baru keesokan harinya para jamaah haji non-pedagang itu bergerak menuju Mina. Dari Mina, mereka akan menuju ke Makkah untuk melaksanakan thawaf.

Sejumlah suku Arab pada masa Jahiliyah menetapkan suatu aturan bagi jamaah haji yang pertama kali melakukan ritual tersebut, yaitu menanggalkan seluruh pakaian yang mereka kenakan. Alasannya, pakaian tersebut tidak suci sehingga tidak pantas dikenakan dalam ritual haji. Itu sebabnya, para jamaah haji tersebut melakukan thawaf dengan telanjang bulat.

Namun demikian, aturan tersebut hanya berlaku bagi masyarakat kelas bawah. Orang-orang yang berasal dari kelas sosial menengah ke atas diperbolehkan mengenakan pakaian selama melakukan thawaf meski mereka juga baru pertama menunaikan haji. Akan tetapi, selesai melakukan thawaf pakaian tersebut harus dibuang dan tidak boleh digunakan lagi.

Dalam rangkaian kegiatan haji yang dilakukan oleh masyarakat Arab Jahiliyah, terdapat unsur-unsur tertentu yang menyerupai tuntunan haji yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat Arab Jahiliyah sebenarnya masih mempertahankan sebagian ajaran Nabi Ibrahim AS.(jurnalhaji.com)
Share:

Menunda Berangkat Haji, Bolehkah?

Pada dasarnya orang yang sudah memenuhi syarat-syarat untuk mengerjakan haji, wajib hukumnya menunaikan ibadah tersebut. Akan tetapi, bagaimana jika ia menunda ibadah hajinya?

Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang masalah ini. Pertama, haji wajib segera dilaksanakan apabila seseorang telah memiliki kemampuan untuk pergi ke Baitullah. Pendapat ini didukung oleh para ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Pendapat kedua, haji wajib dilaksanakan dengan kelonggaran waktu. Artinya, meski seseorang sudah mampu menunaikan ibadah haji namun ia boleh melaksanakannya di lain kesempatan. Pendapat ini didukung oleh ulama madzhab Syafi’i, sebagian ulama madzhab Hanafi, dan sebagian ulama madzhab Maliki.

Terlepas dari dua pendapat yang berbeda di atas, haji tidak dapat ditunda-tunda jika ada hal-hal yang mengharuskannya segera dilaksanakan. Misalnya, karena nadzar, qadha’, kekhawatiran bahwa tahun-tahun berikutnya jatuh sakit atau meninggal dunia, maupun harta benda yang berkurang sehingga tidak cukup digunakan untuk membayar biaya haji.

Dalam kondisi-kondisi seperti itu, menunda pelaksanaan ibadah haji dilarang. Pada saat yang sama, jika syarat- syarat menunaikan haji sudah terpenuhi maka sunnah hukumnya segera melaksanakannya. Wallahu’alam(jurnalhaji.com)
Share:

Makna Filosofis dari Berniat Haji

Rangkaian kegiatan yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW ketika menunaikan ritual haji menjadi contoh bagi para sahabat dalam menjalankan ibadah wajib tersebut. Meskipun Nabi hanya melakukan umrah sebanyak empat kali dan haji hanya sekali, rangkaian manasik haji yang beliau contohkan memiliki makna yang sangat substansial.

Jamaah haji yang tidak memahami makna filosofis dan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ritual haji tidak menutup kemungkinan akan merasakan kehampaan dalam ibadahnya. Sebaliknya, mereka yang mampu menangkap makna dan nilai-nilai tersebut akan semakin bersemangat dan khusyuk dalam melaksanakannya.

Berbahagialah mereka yang telah tebersit keinginan di dalam hatinya untuk menunaikan ibadah haji. Keinginan untuk pergi haji adalah anugerah sekaligus hidayah dari Allah SWT agar kita selamat dari jurang kesesatan dan kegelapan hidup.

Banyak umat Islam zaman sekarang yang merasakan kehidupannya kosong dan tak bermakna. Hari-hari dalam kehidupan mereka seakan hanya pengulangan dari hari sebelumnya. Tanpa mereka sadari, salah satu ajaran dalam agama mereka yaitu ibadah haji dapat mengantarkan mereka pada sebuah pengalaman yang akan membebaskan diri dari kehidupan semacam itu.

Perjalanan haji sangat bertolak belakang dengan perjalanan hidup yang tanpa tujuan. Dengan menunaikan ibadah tersebut kita akan dapat melepaskan diri dari jaring- jaring hawa nafsu dan membuka jalan yang luas menuju ridha Allah SWT.

Jika telah tebersit keinginan dalam hati untuk menunaikan ibadah haji, itu artinya kita telah bersedia meninggalkan sanak keluarga untuk berjumpa dengan Allah. Hati yang selalu mengajak untuk menunaikan ibadah haji adalah pertanda bahwa Allah SWT sedang mengundang kita ke sebuah ‘jamuan’ yang diadakan setiap tahun. Dalam jamuan itu, kasih sayang dan ampunan akan disuguhkan kepada seluruh tamu-Nya.

Sebaliknya, mereka yang tidak mendengar adanya panggilan hati untuk menunaikan ibadah haji patut bersedih. Sebab itu pertanda bahwa mereka telah berpaling dari Allah dan lebih memilih kehidupan yang fana.

Jika sedikit pun mereka tidak merasakan keinginan untuk berkunjung ke rumah Allah, maka itu artinya Allah SWT tidak mengundang mereka ke ‘jamuan’ yang diadakan-Nya.(jurnalhaji.com)
Share:

Kain Ihram Pelepas Status Sosial

Meski pembagian kelas sosial pada mulanya bersifat netral namun seringkali hal itu menciptakan dinding tebal yang memisahkan antara ‘aku’ dan ‘kamu’. Kata ‘kita’ seakan terkubur dalam-dalam di antara egoisme dan individualisme jamaah haji.

Egoisme si kaya dan si miskin, yang kuat dan yang lemah, pejabat dan rakyat, dan lain-lain secara langsung maupun tidak seringkali memisahkan umat Islam yang satu dan umat Islam yang lain. Pemisahan tersebut acap, kaii membuat manusia tidak sadar siapa sebenarnya dirinnya.

Yang kaya tidak peduli kepada yang miskin, yang kuat merasa berhak menindas yang lemah, dan mereka yang memiliki jabatan tinggi terlalu membanggakan dirinya sehingga lantas memandang hina rakyat jelata. Dari watak buruk seperti inilah lahir ketimpangan dan ketidakadilan dalam hidup.

Ibadah haji adalah simbol untuk mengikis ketimpangan dan ketidakadilan semacam ini. Di dalamnya kita diajarkan untuk lebih menghayati nilai-nilai persamaan dan melupakan perbedaan, baik perbedaan ras, agama, kelas ekonomi, dan lain sebagainya.

Inilah makna terdalam dan nilai teragung yang tersirat dalam pakaian ihram, sebuah pakaian sederhana namun sanggup melunturkan berbagai macam perbedaan dan ke-aku-an.

Dengan mengenakan pakaian ihram berarti kita telah menanggalkan status yang membedakan satu sama lain. Antara kaya dan miskin, kuat dan lemah, pejabat dan rakyat, semua diikat oleh sebuah persamaan sejati yang dilambangkan dalam pakaian ihram.

Tidak ada lagi status sosial yang memisahkan antara ‘aku’ dan ‘kamu’, yang ada hanyalah keseragaman dan kesatuan umat Islam.

Keseragaman baju ihram juga memberikan peringatan agar kita tidak bersikap egois dan sombong. Adalah sesuatu yang aneh jika dalam kondisi tengah berihram kita masih juga mengotori hati dengan merasa lebih mulia dan lebih terhormat daripada orang lain.

Dalam berihram kita dituntut untuk melupakan segala sesuatu yang mengingatkan kita pada gemerlap kehidupan. Leburkan diri dalam kesatuan dengan hamba Allah dari seluruh penjuru dunia dan berubahlah menjadi pribadi baru yang lebih baik. Kubur sifat ego dan individualistis, sadari bahwa kita adalah makhluk kecil yang berada di tengah-tengah jutaan manusia.(jurnalhaji.com)
Share:

Talbiyah adalah Jawaban Panggilan Allah SWT

Rasulullah SAW memberikan contoh yang sangat baik dalam menjalankan ritual haji dan umrah. Gema talbiyah yang beliau kumandangkan terngiang keras namun begitu syahdu, melambangkan semangat yang berapi-api. Dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah.

Mungkin waktu itu orang kafir Makkah bertanya-tanya mengapa bacaan talbiyah tersebut harus dibaca berulang-ulang. Apakah tidak ada bacaan lain yang bisa dibaca sehingga Rasul SAW seakan-akan bertemu dengan nalar buntu dan ritual yang tidak masuk akal?

Gema talbiyah yang selalu dibaca berulang-ulang dalam pelaksanaan ibadah haji akan memberikan pengaruh positif kepada kita berupa kecenderungan hati untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jika gema talbiyah itu terus terngiang di hati dan telinga maka kita akan mudah merespons atau menjawab panggilan Allah itu. Sebab, pada dasarnya talbiyah adalah sambutan atas panggilan Allah SWT.
Share:

Tanah Suci, Alam Kedamaian Tanpa Kebencian

Memasuki kota Makkah dan mengerjakan ibadah di Masjidil Haram sama halnya dengan memasuki alam kedamaian yang penuh ketentraman. Di tempat itu Allah SWT mencurahkan segala rahmat dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Tidak salah kemudian jika para jamaah haji yang sudah pulang ke kampung halamannya merindukan kembali kota Makkah pada tahun-tahun berikutnya.

Bisa dibayangkan, tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang menjadi lokasi berkumpulnya umat sedunia. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan membawa satu keimanan yang sama dan melakukan ritual- ritual yang sama.

Jutaan umat muslim di Makkah dan Madinah merasa bersaudara. Persaudaraan mereka diikat oleh kesamaan keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah dan Muhammad SAW adalah Utusan-Nya.

Sebagai saudara, tidak ada sikap yang paling patut untuk ditunjukkan selain sikap saling menyayangi. Bagaimana mereka tidak saling menyayangi jika Allah SWT melarang perkataan kotor dan perbuatan keji selama mereka melaksanakan ibadah haji atau umrah? Kebencian sebagai lawan dari cinta kasih sama sekali dilarang di tanah yang diberkati ini.
Share:

Inilah Syariat Ibadah Haji Para Nabi Sebelum Nabi Muhammad

Haji adalah ritual keagamaan yang sejak lama sudah dikenal oleh manusia. Meski ibadah tersebut kini identik dengan umat Islam, namun sebenarnya umat nabi-nabi terdahulu sudah lebih dulu melaksanakannya.

Ibadah haji sudah dikenal sejak zaman Nabi Adam AS, namun pelaksanaannya masih sangat sederhana dan jauh berbeda dibandingkan dengan ibadah haji yang dilakukan oleh umat Islam saat ini. Menurut Ibnu Abbas RA, setelah membangun Kabah, Adam AS berputar mengelilinginya hingga tujuh kali putaran.

Menurut Abdullah Ibnu Abi Sulaiman, setelah merampungkan tawaf tujuh kali, Adam mengerjakan shalat dua rakaat di depan pintu Kabah dan kemudian berdoa di pintu Multazam. Dalam berbagai riwayat, doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Adam AS sangat beragam, namun intinya sama, yaitu permohonan kepada Allah SWT agar bersedia mengampuni dosa-dosanya.

Di samping itu ia juga meminta agar anak-cucunya didatangkan untuk berhaji ke Baitullah, dipenuhi segala kebutuhan hidupnya, diteguhkan imannya, dan dibimbing agar senantiasa ridha menerima cobaan atau musibah yang menimpanya.

Beberapa utusan Allah yang hidup pasca Nabi Adam AS seperti Nuh AS, Hud AS, dan Shaleh AS juga mengerjakan ibadah haji ke Baitullah namun dengan tata cara yang tidak sama. Perbedaan tata cara itu disebabkan oleh latar belakang waktu dan tempat di mana nabi-nabi itu diutus berbeda-beda.

Syariat yang dibawa oleh nabi-nabi terus berkembang menuju titik kesempurnaan, dan di tangan Nabi Muhammad SAW kesempurnaan itu akhirnya terwujud. Meski ritual haji di antara para nabi berbeda-beda, akidah atau keyakinan mereka tetap sama, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa.(jurnalhaji.com)
Share:

Jadi Pemandu Haji Dadakan

Ini cerita pengalaman saya menjadi pemandu. Bukan memandu wisatawan berhonor. Tapi, ini memandu orang yang tersesat. Hal itu terjadi saat saya dan istri menunaikan ibadah haji tahun 2005.

Saat itu adalah hari kedua kami menginjakkan kaki di Tanah Suci Makkah. Malam hari, kami tiba di hotel sederhana di Shif Amir setelah melalui perjalanan bus yang melelahkan dari Bandara King Abdul Aziz di Jeddah menuju Makkah. Hotel kami terletak tak jauh dari Masjid Jin, kira-kira satu kilometer dari Masjidil Haram.

Setelah istirahat beberapa jam, pukul 07.00 waktu Arab Saudi (WAS) kami bersiap-siap melaksanakan ibadah umrah wajib. Alhamdulillah, karena jarak yang dekat, perjalanan dari hotel ke Masjidil Haram hanya ditempuh kurang lebih seperempat jam jalan kaki. Pukul 11.00 WAS, alhamdulillah umrah selesai. Kami semua sudah tahalul. Lalu bada Dzuhur kami pulang ke hotel.

Ketika kami istirahat di kamar, tiba-tiba kami melihat ada seorang laki-laki tua berpakaian ihram keluar dari lift. Celingukan sebentar, dia menyadari kalau tersasar. Kakinya yang tanpa alas kaki dan lusuh menunjukkan bahwa diapun tidak menemukan sandalnya di Masjidil Haram. Mungkin dia keluar Masjidil Haram dari pintu yang berbeda dengan pintu saat dia masuk.

Seorang teman menegaskan kepadanya bahwa dia salah kamar, bahkan salah hotel. Pak tua segera berbalik ke arah tangga. Dia segera menuruni tangga. Saya segera mengejarnya. “Bapak dari mana?” tanya saya. “Dari Bima.” Jawabnya.

“Bapak di maktab berapa?” Tanya saya lagi. Dia menggeleng. Kloter berapa dia juga tidak tahu. Gelang logam di tangannya yang bergravir nama dan kloter asalnya pun tak terpasang. Tas paspor di lehernya juga tak ada. Katanya ditinggal di hotel.

Saya ingat di lantai bawah ada kamar pimpinan kloter, maka saya ajak bapak tua ini ke sana. Ternyata pimpinan kloter ini tak mengenali, pertanda dia bukan dari kloter kami. Lalu saya ajak dia keluar hotel. Pak tua melayangkan pandangannya mengamati hotel-hotel di sekitarnya. Sampai matanya berhenti karena menemukan sebuah tanda yang dikenalinya. Ada pagar besi di tangga hotelnya.

“Itu hotel saya!” katanya gembira. Sayapun mengantarnya ke sana. Saya ingatkan agar dia mengingat-ingat nomor maktab yang tertera di dinding hotelnya itu. Di depan hotel, penjaga hotel menanyakan ID card-nya. “Ma fi.” Jawab saya. Tak ada. Lalu saya lanjutkan dengan ‘bahasa tarzan’, sehingga akhirnya Pak Tua diperkenankan masuk. Alhamdulillah.

Baru saja saya masuk ke kamar setelah mengantar bapak tua dari Bima tadi, tiba-tiba muncul lagi seorang ibu tua di lantai kami. Seperti bapak tadi, begitu muncul dari lift, dia langsung sadar bahwa dia salah lantai. Segera dia pergi berbalik. Merasakan senangnya jadi guide barusan, maka saya pun segera mengejarnya. Saya ajak ibu tua itu masuk lift.

“Ibu dari mana?” sapa saya. Ibu itu menjawab dengan bahasa yang saya tak mengerti. Kalau bahasa Sunda, Minang, atau Melayu saya sedikit-sedikit bisa memahami. “Kloter berapa?” tanya saya lagi. Ibu itu tak menjawab. Malah ada raut ketakutan di wajahnya.

Saya ulangi pertanyaan saya, tetap tak ada jawaban. Kepala plontos saya setelah tahalul tadi dan jenggot keriting saya mungkin menakutkannya. Mungkin saya dikira orang asing. Padahal saya orang Jawa asli. Sampai akhirnya saya simpulkan dia tak bisa berbahasa Indonesia.

Biar Ibu itu tak takut, saya menepuk dada saya sambil berkata, “Jakarta, Indonesia.” Maksud saya: “Jangan takut, saya dari Jakarta. Orang Indonesia juga.” Alhamdulillah berhasil. Sedikit senyum mengembang di wajahnya. Dari ciri-ciri fisik dan logat bicaranya dalam hati saya menyimpulkan dia berasal dari Bima juga. Ciri-ciri fisik dan logatnya mirip dengan bapak tua yang tersasar sebelumnya.

Saya ingat di salah satu lantai di hotel ini ada rombongan dari Bima. Maka saya antar si Ibu ke kamar itu. Benar dugaan saya. Meskipun Ibu tua itu bukan rombongannya, tapi orang Bima di kamar itu segera mengajaknya berkomunikasi dan berjanji kepada saya untuk mengantarkan Ibu itu ke maktabnya. Alhamdulillah.(Choirul Asyhar/ jurnalhaji.com)
Share:

Rajin Menabung, Tukang Becak pun Naik Haji

“Assalamu’alaikum, Pak Haji. Saya sudah sehari tidak narik becak. Sulit cari penumpang,” kata seorang tukang becak saat menyapa Abdul Khadir (60 tahun) yang sedang mengayuh becak di lampu merah Titik Nol Kota Yogyakarta.

“Wa’alaikumusalam. Iya, yang sabar,” jawab Khadir singkat sambil mengayuh becaknya. Khadir sudah dikenal oleh kalangan tukang becak yang mangkal di sepanjang Malioboro hingga Pasar Beringharjo. Teman-temannya memanggilnya dengan sebutan Pak Haji atau dikenal sebagai adik Pak Gendhut. Dia biasa mangkal mencari penumpang di depan Mal Malioboro.

Saat Pak Kadir dicari, seorang tukang becak yang mangkal di Mal Malioboro, mengatakan, “Oh Pak Haji Khadir. Dia baru saja mengantar penumpang ke Pasar Beringharjo. Tunggu di sini saja, sebentar lagi datang.”

Khadir memang sudah menunaikan ibadah haji pada 2007 bersama istrinya, Nurjanah Ina, yang sehari-hari menjadi penjahit di rumahnya di Plered, Bantul. Sebagai kenangan saat melakukan ibadah haji, becaknya pun diberi tulisan Misfalah yang merupakan nama hotel atau jalan tempat dia menginap saat di Makkah.

“Sejak 2004, saya mulai prihatin dengan banyak berdoa, menabung, dan sering berziarah ke makam-makam Wali Songo. Saya dipesan oleh almarhum bapak saya kalau kamu ingin menunaikan ibadah haji, harus berdekat-dekat dengan ulama, termasuk berziarah ke Wali Songo,” ungkap ayah dua putri ini memulai ceritanya.

Mulai 2004, Khadir pun mulai menabung di BRI dan kaleng cat tembok yang besar. Dari menyisihkan uang dari menarik becak dan membantu istrinya menjahit untuk ditabung. Di samping itu, ada juga saudaranya yang memberi motivasi dengan memberi uang, tetapi sebagian besar uang untuk menunaikan ibadah haji dari penghasilan Khadir dan istrinya.

Dia semula berniat untuk menunaikan ibadah haji pada 2005, tetapi uang untuk menunaikan ibadah haji istrinya belum cukup. “Alhamdulillah, tahun 2007 kami bisa berangkat ibadah haji. Saya juga tidak tahu kadang uang itu datangnya tidak disangka-sangka,” tutur dia yang pada saat barangkat haji menjadi ketua rombongan sehingga dia mendapat keringanan biaya haji Rp 5 juta.

Sampai sekarang, Khadir pun masih menarik becak. Setiap pagi, pukul 07.00 WIB, dia berangkat menarik becak dari rumahnya di Plered menuju Malioboro dengan jarak tempuh sekitar 15 kilometer. Dia pulang sampai rumah sekitar pukul 19.00 WIB.

Setiap Ramadhan, meskipun harus mengayuh becak setiap hari, Khadir tetap berpuasa. “Alhamdulillah rasanya ringan, tidak merasa haus maupun lapar. Bahkan, kalau puasa Ramadhan, bagi saya justru sebagai obat. Dulu gula darah saya tinggi, sekarang sudah turun jauh dan badan saya terasa ringan,” kata pria asal Kebumen, Jawa Tengah, ini.(jurnalhaji.com)
Share:

Perhiasan Penguji Kekhusukan Shalat

Ibadah haji bisa jadi sesungguhnya merupakan tempat ujian keimanan dan ketakwaan tertinggi bagi seseorang yang datangnya langsung dari Allah SWT. Karena itu, banyak kisah yang bisa didengar dari Tanah Suci mengenai ujian keimanan dan ketakwaan saat menjalankan ibadah haji.

Salah satunya, mungkin kisah yang dialami kedua orang tua saya ketika menjalankan Rukun Islam kelima ini pada 2008. Kala itu, ayah saya sedang menjalankan shalat sunah di salah satu sudut di halaman Masjidil Haram, Makkah. Sampai pada akhir shalat, ketika mengucapkan salam pertama sambil menengok ke arah kanan, tiba-tiba sepintas, ayah saya melihat sebuah kotak penyimpanan perhiasan yang tergeletak di lantai.

Kotak perhiasan itu dalam kondisi terbuka, sehingga jelas terlihat isinya berupa berbagai perhiasan terbuat dari emas. “Meski hanya sepintas, tapi perhiasan itu terlihat begitu nyata karena kotak yang tergeletak di lantai itu begitu mencolok bagi siapapun yang melihatnya,” ujar ayah saya menceritakan kisahnya itu.

Ayah yang hanya seorang prajurit TNI AD di salah satu kantor di bilangan Matraman, Jakarta, tak memedulikan kotak perhiasan tersebut. Salam penutup shalat pun dituntaskannya dengan menolehkan wajah ke arah kiri dan langsung membaca doa. Barulah, setelah semua doa diucapkan, ayah kemudian menoleh lagi ke arah kotak perhiasan itu.

Rupanya, kotak perhiasan itu masih berada di tempatnya yang tak terlalu jauh dari posisi duduk ayah. Sampai akhirnya, Ayah tetap tidak menghiraukan perhiasan itu dan memilih kembali ke penginapan bersama rekan satu kloternya yang bersama-sama shalat sunah di Masjidil Haram.

Anehnya, ketika Ayah bercerita tentang kotak perhiasan tadi kepada rekannya, seketika rekannya itu mengatakan hal tersebut mustahil. Karena ia jelas-jelas tidak melihat adanya kotak perhiasan. “Itu mungkin ujian keimanan dunia yang sesungguhnya dari Allah.”

Pengalaman yang begitu mendalam ternyata juga dialami ibu. Saat menjalankan ibadah haji, ibu sempat dikucilkan oleh rekan-rekan sekamar, karena perkara sepele. Namun, ibu tak memedulikan dan berusaha tetap sabar.

Hingga suatu saat ketika memasuki toilet di hotel, Ibu bercerita, dia tak melihat hal aneh di dalam kamar mandi. Namun, ketika rekan-rekan sekamarnya bergantian memasuki toilet yang sama, mereka mengaku melihat kamar mandi dalam keadaan menjijikkan, karena penuh dengan kotoran manusia.

Tidak hanya sampai di situ, Ibu ketika akan melakukan thawaf, aroma wewangian Hajar Aswad ternyata tercium sejak dari kejauhan, meski Kabah masih begitu jauh dari pandangan ibu. Ketika Ibu mengatakan hal tersebut kepada ayah, ternyata ayah tidak menciumnya sama sekali.

Terakhir adalah keajaiban yang dirasakan oleh kedua orang tua saya saat melakukan thawaf. Mereka seakan-akan mendapatkan pertolongan seseorang yang berbadan besar, dengan memegang tangan ayah dan ibu serta menarik dan memberikan jalan yang nyaman, menuju ke dekat Kabah.(jurnalhaji.com)
Share:
 photo iklan-instagram_zpsijgophla.gif

Terpopuler

Berita Haji 2012

Tips Haji dan Umrah

Kisah dari Tanah Suci

Manasik Haji dan Umrah

Photobucket

Labels

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.